Wednesday, January 27, 2010

Ya Khumairoh ( Wahai Gadis Berpipi Kemerah- merahan )


Langit malam mulai memudar. Kerlip bintangpun mulai berguguran, dan suara sang pejantan yang bermunajat menyebut kebesaran dzat Maha Agung telah mulai terdengar tanda bergantinya sang layl ( malam ) menjadi sang fajar.
ALLAHU AKBAR...................................................
ALLAHU AKBAR...................................................
panggilan penyejuk jiwa telah dikumandangkan.
Saat menata hati telah tiba, dan hatipun mulai berharap semoga hari ini menjadi lebih baik dari hari yang lalu. Aku mulai melangkahkan kaki dari tempatku bermunajat kepada sang Khaliq dengan tangis rindu akan datangnya sang penyejuk dan penerang hati yang masih belum tampak tandanya. Dalam sujud aku berdoa dan berharap semoga Allah memberikan isteri soleha yang dapat menerima diriku apa adanya, dan dapat bersama-sama membangun istana cinta abadi dalam lindungan dan cahaya Islam.
Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara laki-laki. Namaku adalah Ahmad Ridwan Zarkasy. Orang-orang biasa memanggilku Ahmad. Adik pertamaku Muhammad Anwar Zarkasy, sekarang dia sedang merampungkan kuliahnya di Universitas Al-Azhar, cairo, Mesir. Jurusan ilmu Hadits. Arsyad Jalaluddin Zarkasy adik keduaku. Mahasiswa jurusan Elektro di Institute Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Semester enam. Dan adik bungsuku Muhammad Syaiful Zarkasy masih kelas dua SMU di desa kelahiranku Lamongan tercinta. Dia tinggal bersama emak, karena bapak sudah meninggal dunia sejak empat tahun lalu.
Alhamdulillah gajiku sebagai dosen disalah satu perguruan tinggi Negeri di kota Malang ini dapat mencukupi kebutuhan hidupku sehari-hari seperti membayar uang kontrakan, membiayai kehidupan emak dan adik bungsuku di desa, bahkan kadang-kadang uang dari sisa gajikupun dapat aku kirimkan pada Anwar dan Arsyad yang sedang melanjutkan studi S1nya di Cairo dan Surabaya. Meskipun tidak dapat sereguler uang yang aku kirimkan pada emak dan Syaiful.Tapi uang yang aku kirimkan pada anwar dan Arsyad sering mereka kembalikan ,Aku tahu memang mereka sudah dapat mencari penghasilan sendiri.Tapi yang membuat aku gusar adalah mereka mengembalikan uang kiriman dariku dengan dalih sebaiknya aku simpan sebagai modal untuk pernikahanku kelak." N…..I……..K…….A……H " seutas kata yang telah membuat hidupku penuh kecemasan.
Ketika Empat bulan lalu aku menghubungi emak di desa lewat sambungan seluler lata itulah yang selalu berada dalam benakku. Baik saat aku terjag maupun saat aku terlelap.
" le…..sampeyan iku wes mampu, mbo' yo lah nikah! Emak iki wis tuwo, wis pingin nggendong puthu. Opo sampeyan dereng enten calon to? Sing dereng digolekake emak to piye? " ( Nak……….kamu itu sudah mampu( berumah tangga ), segeralah menikah! Ibu sudah tua, sudah ingin menggendeong cucu. Apakah kamu belum punya calon isteri? Kalau belum Apakah kamu mau Ibu carikan calon Isteri untukmu ? )" mboten mak, Insya Allah sakdereng ramadhan kulo nikah. Dungakaken mawon saget nyenengake panjenengan " ( Tidak perlu bu, Insya Allah sebelum ramadhan saya akan menikah , doakan agar calon isteri pilihan saya dapat menyenangkan Ibu )Itulah kata-kata yang sedang aku renungkan saat ini.
Bagaimana mungkinaku dapat berbuat bodoh dengan mengatakan bahwa aku sudah memilik calon Isteri. Astaghfirullah dosakah hamamu ini yang telah membohongi Ibu hamba. " TREK " suara pintu kebuka dan kulangkahkan kaki keluar dari rumah kontrakan yang kutempati. SUBHANALLAH pekikku dalam hati. Sesungging senyum telah menyapaku, bibir yang berhias lesung pipit, pipi yang kemerah-merahan telah menyapaku didepan pagar halaman kontrakan. Sungguh Agung kebesaran-Mu ya Allah. Pujiku dalam hati.
" Assalamualaikum nak ahamd ayo berangkat bersama. Bapak tunggu sejak tadi kok baru keluar ".Tiba-tiba suara berat lelaki dewasa menghentikan lamunanku. Dan kutemukan wajah seorang pria yang memakai baju koko, peci, dan sarung yang serba putih. Serasi pikirku dalam hati. Pria bertubuh subur ini adalah ketua RT di daerah Joyosuko Timur ini.
" Wa…aa…alaikumsalam pak rahman " jawabku kaget bercampur tegang.
Astagfirullah bagaiman mungkin aku tidak menyadari pak rahman menahan senyum melihat tingkahku. Istighfar jangan suudzon protes hatiku.
" Ada apa nak sepertinya kamu kaget. Apa ada yang salah? " tanya pak rahman agak cemas.
Kutatap wajah lebar pak rahman sekilas, kemudian tatapanku bertemu dengan mata gadis berjilbab yang berdiri disamping pak rahman.
Seketika hatiku bergemuruh dengan cepat diiringi detak jantung yang berlompat-lompat tak tentu arah. Tiba-tiba gadis itu tersenyum.
Ya khumairoh………liriku dalam hati. Ya Allah sang Maha Pembolak-balik hati jika dia merupakan karunia-Mu, maka jadikanlah dia pendamping hidupku. Tetapi, jika dia bukan karunia-Mu maka hindarkanlah dia dari hamba. Karena hamba hanyalah manusia hina yang ingin mencari kehidupan atas nama cinta-Mu. Doaku dalam hati. Astagfirullah. Aku kembali beristighfar. Aku ingat sebuah nasihat dari seorang sahabat Rasulullah. Yahya bin Muadz dia berkata " tidaklah jujur orang yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak mau menjaga batas-batas-Nya ". Sekilat kutundukkan wajahku." maaf pak, saya agak kaget karena bapak sangat perhatian pada saya hingga bapak sengaja menunggu saya untuk berangkat sholat subuh berjamaah di masjid. Ini sungguh suatu kehormatan bagi saya " ucapku datar. Tetap dengan wajah tertunduk.
" Ah, nak ahmad salah sangka. Justru anak gadis bapak in…………." suara pak rahman mendadak
terhenti. Sesuatu terjadi anatara pak rahman dan gadis berjilbab yang belum aku ketahui siapa dia sebenarnya.
Kuberanikan mengangkat wajah. Aku melihat gadis berjilbab itu menatap pak rahman dengan tatapan guru marah pada muridnya. Saat gadis berjilbab itu menyadari aku melihatnya dia segera menurunkan wajahnya menatap kedua tangannya yang sedari tadi memegang mukena. Aku heran apa yang akan dikatakan pak rahman hingga membuat gadis berjilbab itu marah. Itu bukan urusanku! Kataku memantapkan hati.
" Nak Ahmad kenalkan ini anak bapak sudah seminggu dia pulang dari S1-nya di UIN Jakarta ", sambil menatap gadis berjilbab putih, berlesung pipit dan berpipi kemerah-merahan itu.
" Nah aini ini nak Ahmad, dosen muda di UIN Malang ". Tanpa sadar aku memandangnya penuh perhatian laksana bertatapnya pandangan nabi Adam dan Siti Hawa saat pertama kali bertemu kembali di Tanah Allah ini. Kulihat senyum manisnya " Ya Khumairoh " hatiku mulai bernyanyi. Sungguh ciptaan Allah yang sempurna, puji Allah dan Rosulnya. " Assalamualaikum ", ucapku dengan menelungkupkan kedua tangan didepan dada. Namun tak ada suara yang keluar dari bibir pemikat itu. Mungkin benar kata kyaiku saat mondok di jombang dulu, bahwa suara wanita adalah aurat. Gadis bernama aini tersenyum, mungkin ini adalah balasan sapa dari dia, pikirku.
" Nak Ahmad, Apa dosa Bapak sehingga anak bapak menjadi seperti ini? Bagaimana mungkin Bapak akan mendapat cucu sedang usia bapak ini sudah mulai lanjut…………., sedang anak bapak ini setiap bapak Tanya kapan menikah tidak ada jawabannya ".
Setetes embun seolah turun dari langit. " Ah, Bapak ini jangan aneh-aneh malukan…….", ucap aini datar.
" Kamu ini.. Kalau malu terus, kapan kamu nikahnya nduk ( anak perempuan )? ", pak ahmad kembali berucap.
Aini terdiam. Wajahnya yang sedari tadi tenang terlihat sedikit gusar.
" Pak rahman, maaf saya mengganggu pembicaraan bapak dan putri bapak. Sebenarnya saya kurang pantas mengatakan hal ini jadi sebelumnya saya mohon maaf ". ucapku datar.
" Oh tidak apa-apa nak, silakan katakan apa yang hendak nak ahmad sampaikan ".sahut pak rahaman.
" Maaf sebelumnya pak rahman dan aini. Kalau kita berkata tentang masalah jodoh memang jodoh itu ditangan Allah dzat yang maha tinggi. Dan kita boleh berpendapat bahwa kalau sudah jodoh pasti nanti ketemu sendiri. Itu memang benar. Tapi bukankah Allah juga berfirman dalam Al-quran bahwa" Sesungguhnya Aku ( Allah ) tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mau merubah nasibnya sendiri ". Bukannya saya juga menyalahkan putri bapak, karena Allah-lah yang pantas menilai baik dan buruknya sesuatu. Tapi dalam mencari jodoh kita juga harus ikhtiar karena jika kita hanya pasrah dan pasrah maka jodoh belum tentu datang. Tapi, ingat jangan lupa batasan-batasan yang ada dalam berikhtiar sebagaiman telah ditetapkan Allah dalam kitabnya . Dan insyaallah jodoh putri bapak nanti merupakan laki-laki yang soleh, seperti hadits Nabi yang artinya " Wanita yang soleh itu untuk Laki-laki yang Soleh dan sebagaimana sebaliknya ".
" Kamu sudah dengarkan ni, bagaiman kamu mau tidak sama nak Ahmad, dia masih muda, gagah, tampan dan sudah mapan! ", Pak Rahman bertanya pada putrinya. " Ya kan nak? ", tiba-tiba Pak Rahman menoleh ke arahku.
" Bapak ini bisa saja ", Jawabku sekenanya.
" Mungkin sudah nasib Bapak, memang benar hadits yang nak Ahmad katakan tadi. Mana Mungkin kamu yang soleh mau dengan anakku yang………….." Pak Rahman tidak melanjutkan ucapannya.
Mataku terbelalak. Kulihat wajah pak Rahman agak suram ,sedang aini… aku tidak berani menatapnya.
Seandainya benar apa yang dikatakan Pak Rahman Barusan. Beliau melamar aku untuk putrinya. Alangkah beruntungnya aku mendapatkan isteri yang solehah, cantik dan………..tapi, mungkin ini hanya gurauan. Lagipula mana mungkin aini menerima aku.
" Pak, mari sebentar lagi iqomat ", suara aini memecah keheningan.
Kali ini Kuberanikan wajahku menatap matanya. Dan ia membalas dengan senyuman.
" Ya khumairoh……………Ya khabibati ", jeritku dalam hati.
" Astaghfirullah………..Setan! ini Setan! ", lirihku dalam hati……

******************************************************************
Hembusan angin Berayun. Pohon-pohon menari mengikuti angin sembari bertasbih, bertakbir menyeru kebesaran Dzat yang Maha Tinggi.
Dan Suara langkah kaki menuju cahaya illahi kutapaki bersamamu. Tiba-tiba bayangan itupun memudar dan mataku terbuka. Kulihat senyum Aini yang tetap seperti dulu sebelum aku meminangnya.
" Bi…., abi sudah baikan. Ini Fariz mau nemenin abi ", ucap Aini sambil menggendong Fariz anakku.
Buah cinta kami yang masih berumur 2 bulan. Disamping Aini ada Emakku yang sejak tadi menahan tangis.
" Emak kenapa? Jangan nangis Ahmad berdosa bila membuat emak nangis ", ingin kuucap kata itu tapi tidak seucap katapun terkantup dari bibirku.
Kutatap wajah ketiga adikku yang berada dibelakang emak terlihat pucat dan cemas .
" Dik maafkan kakak. Kakak adalah kakak yang tidak berguna tidak dapat membahagiakan kalian bertiga…………….Semoga kalian bertiga menjadi orang yang sukses dan tolong jagalah emak ", ingin ku ucap kata ini, tapi bibir ini kembali terkunci.
Mataku mulai memudar……………………………………
Samar-samar senyum Aini masih terlihat……………………
Wajah Emakpun semakin samar……………………
Fariz, putrakupun seolah ikut terlihat samar……………
Dan tiba-tiba wajah itupun menghilang.
Maaf-maafkan aku lelaki yang tak berguna ini………………………………………
Maaf Aini……..khumairohku………..
aku tak bisa menyebut namamu lagi, aku tak bisa membahagiakanmu, aku tak bisa bersamamu membesarkan Fariz…………
Maaf Fariz buah hatiku, abi tak mampu mendampingimu hingga dewasa…………
Maaf pak rahman aku tak bisa menemani anda lebih cepat, tapi keinginan anda Alhamdulilah telah saya penuhi…………………………………………………….
Maaf adik-adikku aku tak dapat menjadi contoh kakak yang baik……………………..
Maaf………..maaf yang tersangat untuk yang sangat berjasa dalam kehidupanku…Mak…
Emak……..Maaf, Ahmad tidak dapat memberikan emak cucu yang lebih banyak…………….
Dan untuk kalian semua semoga kita dapat bersama di Surga……

******************************************************************

Langit di ruangan putih itupun terlihat suram. Hujan mulai turun dibalik jendela kamar, langitpun seakan memberi salam Perpisahan untuk lelaki yang terlelap diatas kasur itu diiringi riak tangis orang-orang disampingnya. Namun hanya wajah tak berdosa seorang anak kecil yang tenang memandang jenazah lelaki yang belum dapat ia sebut" Abi ". Dan tidak ada kata yang dapat diucap oleh Orang-orang yang kehilangan itu kecuali sebuah kata " IKHLAS ", Karena keikhlasan akan membuat ketenangan sang pengembara yang akan menuju surga Sang pencipta Bumi dan Isinya. Surga yang didalamnya disediakan segala kenikmatan dunia..Surga ALLAH AZZA WA JALLA.

>>>>Kisah Lanjutanya:
Ya Khumairoh Part 2
Ya Kumairoh part 3

30 comments :

  1. lagi-lagi topiknya g jauh2..
    ^_^v

    q dukung deh mas..

    ReplyDelete
  2. @yani:wedew..maksud dari g jauh2 apa neng?

    ReplyDelete
  3. g jauh2 dari yang di bahas kemaren2..
    topiknya ini mulu..
    dapet inspirasi yowh..
    hehehehe...

    ReplyDelete
  4. @yani:ini cerita yg sudah lama dibuat dulu diposting diblog yang lama n sekarang diposting lagi dengan berbagai perbaikan...heheheheh...jadi g ada hubungannya...:)

    ReplyDelete
  5. wah panjang bener? kesimpulane ae ak :)
    btw iki buat khutbah jum'at bisa g?

    ReplyDelete
  6. @bobok:wedew...namanya juga cerita bos...klo pengen dipake khutbah jumat bisa asal yg dengerin siap2 ketiduran..hehehre

    ReplyDelete
  7. seeep wes..
    ikuti kata hati ae..
    hehehehe...

    ReplyDelete
  8. tor tor eksis ente skrg

    ReplyDelete
  9. tor main2 kesini juga birhatihin.blogspot.com

    ReplyDelete
  10. waduh menarik juga ceritanya
    segera dibuatkan filmnya ja
    hahahahaha....

    ReplyDelete
  11. aduhhh jadi ingat ma Nabi Muhammad SAW, krn manggil siti Aisyah dg sebutan itu juga :D

    ReplyDelete
  12. bikin novelnya bro, pasti keren. gw suka banget ceritanya

    ReplyDelete
  13. btw...penasaran ama lanjutan bapaknya, yg blg, "mana mgkn mau dg anakku yang...." kok kesannya anaknya udah pernah ngelakuin kesalahan yg besar? jadi penasaran lanjutan dari .......... nya itu

    ReplyDelete
  14. cerpen yang menarik sekali ...seorang pemuda yang mencoba membahagisakn orangtuanya namun belem s4 teralisasi senuanya Allah sudah memanggilnya semoga dia di berikan tempat di Surga atas usaha dan perjuangannya.
    patut di contoh nihh.. tapi cerita akhir nya sih enggak..belum siap masih banyak salah dan dosa2 hikkss..!
    buat Fariz doakanlah Abi ..... semoga abi tenang di sisinya

    ReplyDelete
  15. @yani:wedew..jangan menyerah mbak...he3

    @birhatihin:ok kang raga

    @Marfio:wedew..nanti bisa-bisa nyaingin Ayat2 Cinta dan KCB wkwkwkwk

    @Kucing Tengil:emang terinspirasi dari sebutan rasululllah pada siti aisyah...wedew miaww kritis banget..bukan karena aini melakukan kesalahan yg besar.tpi bapak aini menganggap anaknya mungkin tidak pantas untuk ahmad...karena zarkasykan soleh sdngkan aini mungkin dianggap ahmad bukan wanita soleh.makanya bapaknya nyadar..n g diterusin soalnyakan takut nyinggung aini..sebelum kata tersebut kan ada hadits "Wanita yang soleh untuk laki2 yg soleh dan sebaliknya"..saya kira dari hadits itu terus kepembicaraan bapaknya kan mbk miaww bisa melanjutkan kata2 bapaknya..hehehe...banyak banget pnjelasannya(menggebu-nggebu mode on)

    @Vamps:thanks bro..tp g janji bikin novel karena nyadar kemampuan...heheheheh

    @kang ipin alias tukang servis ac:hahahha...semoga sebelum nanti kita dipanggil ALLAH kita telah siap segalanya..

    ReplyDelete
  16. ohh.. ini cerjang.. cerita panjang.. hehehe.. tp bagus kok ceritanya, tp kok abi tiba2 meninggal knp yah ? sakit atau knp ?

    ReplyDelete
  17. cerita yang menarik untuk kita renungkan.....

    ReplyDelete
  18. ini inspirasimu nang cui ambek dwi murni ta? he he he

    ReplyDelete
  19. cerpen ya kang Tejo??
    Eh, avatarnya asik tuh... keren, kang..

    ReplyDelete
  20. @Lina: heheheh...klo dibilang cerpen ke panjanagnx ya?knp abi meninggln ya?????...saya juga belum tahu mbk..hehehehhe

    @birhatihin:wedew..

    @pecinta kuliner: boleh dblang gitu mbak...terimah kasih untk pujian avatarnya..

    ReplyDelete
  21. kok wedew tor mana kata2 bijakmu?

    ReplyDelete
  22. hmmm... keren cerpennya, bahasa yg dipake jg menarik.. ^^ ga dijadiin buku aja kang...!??

    ReplyDelete
  23. ha? kok endingnya meninggal..
    jadi sedih nih.. hiks hiks..

    ReplyDelete
  24. boleh juga neh cerpene,,,
    cm perlu pembenahan kata2 ma bahasanya dikit2,,,
    Sebenere seh da lagi,pi berhubung ane bukan pengarang nopel handal, jd mw ngritisi banyak2 g'enak ma yg lebih paham
    So far so good lah,,,
    hehehehe...

    ReplyDelete
  25. jadi tahu kang tejo sebenernya kayak gimana? hehe

    ReplyDelete
  26. cerpennya bener-bener indah, aku jadi kerasan tinggal di rumahnya kang tejo, heheh, indahhhhhh, aku tak sempat berkata :)

    ReplyDelete
  27. dari atas nyata....sampai bawah bingung...
    tapi tulisannya bagus, ceritanya menarik.

    ReplyDelete
  28. " tidaklah jujur orang yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak mau menjaga batas-batas-Nya "...inilah yg terjadi di banyak orang...

    ReplyDelete

 
UA-61905524-1