Ini adalah merupakan tanggapan dari artikel yang berjudul Pluralisme, Klaim Kebenaran yang Berbahaya yang ditulis oleh oleh Anis Malik Thoha dalam blognya http://idrusali85.wordpress.com/
Dalam kenyataanya memang dapat di benarkan jika penulis mengatakan teologi inklusif adalah nama lain baru dari Pluralisme.
Inklusivisme (Teologi Inklusif) memiliki pengertian Hanya salah satu agama saja yang benar, tapi juga mencoba mengakomodasi konsep yuridis keselamatan untuk mencakup pengikut agama lain. Bukan karena agama mereka benar, tapi justru karena limpahan berkah dan rahmat dari kebenaran absolut yang ia miliki.
Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:
- Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.
- Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.
- Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda
Bukankah dari konsep diatas menunjukkan bahwa hakikatnya semua agama sama dan merupakan jalan keselamatan. Padahal kita ketahui Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Quran bahwa Agama yang paling Benar di sisi Allah adalah Islam (Ali-Imran ayat 19) dan tidak ada jalan keselamatan selain Islam. Hal yang paling berbahaya yang paling ditakutkan oleh penulis dalam artikelnya adalah gagasan pluralisme sulit menjawab pertanyaan yang sangat krusial, yaitu apakah benar-benar mampu memberikan solusi yang ramah terhadap konflik antar agama, sebagaimana yang diklaim oleh para penggagas dan penganjurnya? Atau malah menjadi problem baru dalam fenomena pluralitas keagamaan?
Toleransi antar umat beragama adalah sebuah bingkai yang selalu digembar-gemborkan olek kaum pluralis, dan selalu memojokkan Islam jika terjadi konflik keagamaan yang menjadi issue yang sensitif dalam masyarakat Indonesia, kaum pluralis selalu mengatakan bahwa islam tidak punya Toleransi terhadap agama yang lain di negeri ini, orang Islam merasa superior di Negeri Garuda karena menjadi agama Mayoritas. Padahal dalam kenyataanya Islam adalah agama yang toleran, agama yang penuh kasih sayang yang selalu menghormati antar umat beragama. Bukankah dalam Al-Quran dikatakan bahwa “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu” bukankah itu adalah salah satu pengakuan Islam terhadap keberagaman, bahkan Rasulullah sendiri mencotohkan ketika Rasul berzakat dia juga memberikan Zakatnya kepada orang yahudi, ketika ditanya orang yahudi mengapa Rasulullah memberi zakat kepadanya padahal dia bukan seorang muslim, Jawab beliau “Engkau adalah tetanggaku, dan aku wajib memuliakan tetangga”.
Sekali lagi Islam memang menolak Pluralisme karena sebagai mana termaktub dalam Al-Quran: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3), serta “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Tetapi bukan berarti menolak sikap toleransi terhadap umat beragama.
Dan dalam kenyataannya Teologi Pluralis dapat memecah belah kerukunan umat beragama, karena konsep ini sendiri sama seperti penyakit yang selalu menggerogoti tubuh, karena pada dasarnya orang Pluralis selalu mencari celah dari suatu agama dan dihubung-hubngkan dengan kasus sosial yang ada. Jika kita perhatikan lebih lanjut, sebenarnya kristen sendiri tidak mengikuti paham pluralisme, jika kristen menganut paham pluralisme tentu tidak akan muncul Kristenisasi.
tentang agama yah...
ReplyDeleteg bs banyak commentar :)
oke deh kang :)
ReplyDeletekang banner mu aku pasang diblog ku.
gpp kan ?
kan follow aku dong hihi
http://empatmimpi.blogspot.com
Bagiku agamaku, Bagimu Agamamu itu bagiku udah mewakili semuanya, aku ngga ngerti banyak soal ilmu seperti ini, tapi pengetahuanku bertambah saat membaca tulisan ini :), thanks kang sharenya
ReplyDeletehmmm.. tergantung kita menilai makna ideologi dari pluralisme itu sendiri mia rasa.
ReplyDeleteAne ikut xmak aj kang tejo. Mg2 dpt tmbhan ilmu..;-)
ReplyDeletePencerahan yang sangat bagus tentang pluralisme.
ReplyDeleteSalam Actions
ReplyDeleteSenang membaca tulisan hasil karya anda
sangat menarik dan menambah wawasan dan juga pengalaman.
saya akan membaca tulisan tulisan anda berikutnya.
Sukses selalu menyertai perjalanan karier anda.
Alamat URL anda telah saya save agar mudah saya posting ke blog anda,...
begitu sebaliknya Saya tunggu Kunjungan, kritik dan saran anda demi suksesnya blog saya
http://makingmoneyonline-cadalora.blogspot.com/
menurut gw...agama itu bukan untuk diperdebatkan...tp untuk diyakini dan dijanali...mendingan kita berdebat masalah satpolPP aja yuk....
ReplyDeletetak bisa komentar kalau masalah kait mengkaitan dua agama ....
ReplyDeletesetuju sama bang Lebond -james- aja..
ReplyDeleteagama itu untuk diyakini dan dijalani..
:)
Setuju dengan bung Lebond...
ReplyDeleteAgama untuk diyakini...
wes pokoknya islam is the best dah,... hehe
ReplyDeleteyg pasti semua agama didunia itu menginginkan hal yg baik.
ReplyDeletebetul gak?
plurarisme..kalau inget itu saya jadi inget alm. Gus Dur.
ReplyDeleteya, agama kita mengajarkan tuk toleransi dgn umat beragama yang lain. semoga pola fikir ini terus ada, agar negara kita tidak terpecah belah, setuju?
sekali islam tetap islam sampai kapan pun
ReplyDeleteIsssslllaaaaaammmm!!!!!!! Islam is the best choice...
ReplyDeleteanda bisa menulis di blog ku...
@all:terimah kasih atas komentanya..saya tidak maksud berdebat ato apa ini hanyalah tugas kuliah saya yang saya upload disini soalnya kemarin lg g da ide n belum sempat nulis heheh..
ReplyDeletesemoga cepet beres ya tugas kuliahnya..
ReplyDeleteemang kalo ngomongin salah satu bagian dari SARA pasti sensitif banget. hihi
setuju dengan pendapat non miaw dan kang bayu lebond;
ReplyDeleteintinya kebenaran bukanlah hal yang harus diperdebatkan : tetapi dijalani sebagaimana mestinya..
kirain kang-tejo dapet ide dari koment ane tentang 'pluralisme bahasa' wkwkwk
Wah klo konten yg nie aku ga ikutan deh.....Soalnya tergantung masing2 pribadi.....klo aku bilang A blm tentu yg lain ikut A, Nggeh Monggo menurut Kyakinan'y masing2 Wae.....yg penting biza hidup damai N berdampingan aja antara agama yg satu dgn yg lain....
ReplyDeleteSebenarnya toleransi itu sangat penting... Mmg Kang, Qt uda belajar tentang TOLERANSI UMAT BERAGAMA di SMA/sederajat. Namun yang sulit bagi Qt adalah dengan mengintegrasikan antara Toleransi dengan Agama Qt Islam tanpa harus merugika/menyakiti hati orang lain.....
ReplyDelete